Black Hat

Theme Blogspot version Blackhat Indonesia

Black Hat

Theme Blogspot version Blackhat Indonesia

Black Hat

Theme Blogspot version Blackhat Indonesia

Tuesday, 22 October 2019

TEKS LAPORAN HASIL OBSERVASI - ppt download

TEKS LAPORAN HASIL OBSERVASI - ppt download: PENGERTIAN TEKS LHO Teks laporan hasil observasi ialah teks yang berisi penjabaran umum atau melaporkan sesuatu berupa hasil dari pengamatan (observasi), teks laporan observasi juga disebut teks klasifikasi karena memuat klasifikasi mengenai jenis-jenis sesuatu berdasarkan kriteria tertentu. Menggambarkan ciri, bentuk atau sifat umum seperti benda, hewan, manusia, tumbuh-tumbuhan atau peristiwa yang terjadi di dalam semesta kita, teks hasil observasi bersifat faktual atau berdasarkan fakta yang ada.

Sunday, 6 October 2019

Karakteristik dan Pendekatan Analisis Wacana Kritis

Karakteristik dan Pendekatan Analisis Wacana Kritis

Karakteristik Analisis Wacana Kritis

Wacana dapat disebut sebagai rekaman kebahasaan yang utuh tentang peristiwa komunikasi. Komunikasi merupakan alat interaksi sosial, yakni hubungan antara individu/kelompok dengan individu/kelompok lainnya dalam proses sosial (Sudaryat, 2011, hlm.105).

Di dalam analisis wacana kritis wacana tidak dipahami semata-mata sebagai suatu ilmu bahasa. Analisis wacana menggunakan bahasa dalam teks untuk dianalisis, namun bahasa yang digunakan berbeda. Dalam analisis wacana bahasa yang digunakan bukan saja menekankan pada ilmu bahasa namun pada harus menghubungkan dengan sebuah konteks. Kontek tersebut digunakan untuk suatu tujuan dan praktik tertentu, seperti praktik kekuasaan untuk mempengaruhi suatu individu atau kelompok tertentu.

Menurut Fairclough (dalam Fauzan, 1989, hlm.22) menyebut wacana sebagai bentuk “praktik sosial” yang berimplikasi adanya dialektika antara bahasa dan kondisi sosial. Wacana dipengaruhi oleh kondisi sosial, akan tetapi kondisi sosial juga dipengaruhi oleh wacana. Fenomena linguistik bersifat sosial yang mana bahwa linguistik tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh lingkungan sosialnya, sementara fenomena sosial juga memiliki sifat linguistik karena aktivitas berbahasa dalam konteks sosial tidak hanya menjadi wujud ekspresi atau refleksi dari proses dan praktik sosial, namun juga merupakan bagian dari proses dan praktik sosial tersebut. Analisis wacana kritis menyelidiki dan berusaha membongkar bagaimana penggunaan bahasa oleh kelompok sosial saling bertarung dan berusaha memenangkan pertarungan ideologi tersebut. Berikut ini disajikan karakteristik penting dari analisis wacana kritis.

Tindakan

Karakter penting pertama dalam analisis wacana kritis yaitu wacana dipahami sebagai tindakan. Dengan pemahaman ini, wacana disosialisasikan sebagai bentuk interaksi. Wacana tidak didudukkan seperti dalam ruang tertutup dan hanya berlaku secara internal semata. Ketika seseorang berbicara, maka dia menggunakan bahasa untuk tujuan berinteraksi dengan orang lain melalui komunikasi bahasa verbal. Dia berbicara bisa jadi untuk meminta atau memberi informasi, melarang seseorang untuk tidak melakukan sesuatu, mempengaruhi orang lain agar mengikuti jalan pikirannya, membujuk seseorang untuk menyetujui dan melaksanakan apa yang menjadi keinginannya, dan sebagainya. Ketika seseorang menulis, dia juga sedang berusaha berinteraksi dengan orang lain melalui bahasa tulisan. Seseorang ketika membuat tulisan deskriptif, dia menggambarkan sesuatu secara rinci dan lengkap dengan tujuan agar pembaca dapat memiliki gambaran terhadap objek yang sedang dideskripsikan. 

Menurut Bandara ( dalam Fauzan 2012, hlm.29) penggunaan bahasa tidak bisa ditafsirkan dengan penggunaan bahasa ketika seseorang mengigau atau ketika sedang dihipnotis. Seseorang berbicara, menulis, dan menggunakan bahasa adalah untuk berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain. Dengan pemahaman seperti di atas, maka analisis wacana kritis memandang bahwa wacana memiliki beberapa konsekuensi. Konsekuensi pertama, wacana dipandang sebagai sesuatu yang memiliki tujuan; apakah untuk mempengaruhi orang lain, mendebat, membujuk, menyanggah, memotivasi, bereaksi, melarang, dan sebagainya. Kedua, wacana dipahami sebagai sesuatu yang diekspresikan secara sadar, terkontrol, bukan sesuatu yang diluar kendali atau diekspresikan di luar kesadaran.


2.      Konteks
Analisis wacana kritis mempertimbangkan konteks wacana, seperti latar, situasi, peristiwa, dan kondisi. Wacana dalam hal ini diproduksi, dimengerti, dan dianalisis pada suatu konteks tertentu. Merujuk pada pandangan cook, analisis wacana juga memeriksa konteks dari komunikasi: siapa yang mengomunikasikan dengan siapa dan mengapa; dalam jenis khalayak dan situasi apa; melalui medium apa; bagaimana perbedaan tipe dari perkembangan komunikasi; dan hubungan untuk setiap masing-masing pihak.
Konteks memasukkan semua situasi dan hal yang berada di luar teks dan memengaruhi pemakaian bahasa, seperti partisipan dalam bahasa, situasi di mana teks tersebut diproduksi, fungsi yang dimaksudkan, dan sebagainya. Adapun wacana di sini,  kemudian dimaknai sebagai teks dan konteks bersama-sama. Titik perhatian analisis wacana ialah menggambarkan teks dan konteks secara bersama-sama dalam suatu proses komunikasi di sini dibutuhkan tidak hanya proses kognisi dalam arti umum, tetapi gambaran juga spesifik dari budaya yang dibawa. Studi mengenai bahasa di sini memasukkan konteks, karena bahasa selalu berada dalam konteks dan tidak ada tindakan komunikasi tanpa partisipan, interteks,  situasi, dan sebagainya.
Wacana tidak dianggap sebagai wilayah yang konstan, terjadi di mana saja dan dalam situasi apa saja. Wacana dibentuk sehingga harus ditafsirkan dalam kondisi dan situasi yang khusus. Tidak semua konteks dimasukkan dalam analisis, hanya yang relevan dan berpengaruh atas produksi dan penafsiran teks yang dimasukkan ke dalam analisis. Beberapa konteks yang penting karena berpengaruh terhadap produksi wacana. Pertama, jenis kelamin, umur, pendidikan, kelas sosial, etnik, agama, dalam banyak hal relevan dalam menggambarkan wacana. Kedua, setting sosial tertentu, seperti tempat, waktu, posisi pembicara dan pendengar atau lingkungan fisik adalah konteks yang berguna untuk mengerti suatu wacana. Setting, seperti tempat privat atau publik, dalam suasana formal atau informal, atau pada ruangan tertentu akan memberikan wacana tertentu pula.

3.      Histori
Menempatkan wacana dalam konteks sosial tertentu berarti wacana diproduksi dalam konteks tertentu dan tidak dapat dimengerti tanpa menyertakan konteks yang menyertainya. Salah satu aspek yang penting untuk bisa mengerti suatu teks ialah dengan menempatkan wacana tersebut dalam konteks historis tertentu. Misalnya, kita melakukan analisis wacana teks selebaran mahasiswa yang menentang Suharto. Pemahaman mengenai wacana teks tersebut hanya dapat dapat diperoleh apabila kita dapat memberikan konteks historis di mana teks tersebut dibuat. Misalnya, situasi sosial politik, suasana pada saat itu. Oleh karena itu, pada waktu melakukan analisis diperlukan suatu tinjauan untuk mengerti mengapa wacana yang berkembang atau dikembangkan seperti itu, mengapa bahasa yang digunakan seperti, dan seterusnya.

4.      Kekuasaan
Analisis wacana kritis juga dipertimbangkan elemen kekuasaan (power) di dalam analisisnya. Konsep kekuasaan adalah salah satu kunci hubungan antara wacana dan masyarakat. Misalnya, kekuasaan lai-laki dalam wacana mengenai seksisme atau kekuasaan perusahaan yang berbentuk dominasi pengusaha kelas atas kepada bawahan, dan sebagainya. Pemakai bahasa bukan hanya pembicara. Penulis, pendengar, atau pembaca., ia juga bagian dari anggota sosial tertentu, bagian dari kelompok profesional, agama, komunitas atau masyarakat tertentu.
Kekuasaan, hubungannya dengan wacana ialah sebagai suatu kontrol. Satu orang atau kelompok mengontrol orang atau kelompok lain melalui wacana. Kontrol yang dimaksud dalam konteks ini tidak harus selalu dalam bentuk fisik dan langsung, tetapi juga kontrol secara mental atau psikis. Kelompok yang dominan mungkin membuat kelompok lain bertindak sesuai dengan yang diinginkannya.
Kelompok dominan lebih mempunyai akses seperti pengetahuan, uang, dan pendidikan dibandingkan dengan kelompok yang tidak dominan. Bentuk kontrol terhadap wacana tersebut dapat bermacam-macam, dapat berupa kontrol atas konteks yang secara mudah dapat dilihat dari siapakah yang boleh dan harus berbicara, sementara siapa pula yang hanya bisa mendengar dan mengiyakan.

5.      Ideologi
Sebuah teks tidak pernah lepas dari ideologi dan memiliki kemampuan untuk memanipulasi pembaca ke arah suatu ideologi. Kaitannya dengan budaya kritis, ideologi menjadi salah satu perhatian selain kesadaran dan hegemoni. Menurut Lull dalam Sobur, ideologi adalah sistem ide-ide yang diungkapkan di dalam komunikasi.

Ideologi merupakan suatu konsep yang sentral dalam analisis wacana yang bersifat kritis. Hal tersebut karena tek percakapan, dan lainnya adalah bentuk dari suatu praktik ideologi atau pencerminan dari ideologi tertentu. Analisis wacana tidak dapat menempatkan bahasa secara tertutup, tetapi harus melihat konteks terutama bagaimana ideologi dari kelompok-kelompok yang ada tersebut berperan dalam membentuk wacana. Dalam teks berita misalnya, dapat dianalisis apakah teks yang muncul tersebut merupakan pencerminan dari ideologi seseorang apakah dia feminis, antifeminis, kapitalis, sosialis, dan sebagainya.

Pendekatan Analisis Wacana Kritis

Analisis wacana kritis sebagai sarana melihat sudut lain dari sebuah wacana sangat berhutang budi pada tokoh-tokohnya, diantaranya Michael Foucault, Sekolah Frankfurt, Antonio Gramsci dan Louis Althusser. Mereka semua berperan besar dalam perkembangan Analisis Wacana. Gramsci berperan besar dengan teori hegemoni yang memberi penjelasan bagaimana sebuah wacana yang secara halus dan diterima sebagai sebuah kebenaran dapat memengaruhi pola pikir masyarakat. Althusser juga memberi sumbangan besar, terutama dengan teori ideologinya. Dengan memosisikan seseorang di posisi tertentu dalam hubungan sosial, ia meliahat bahwa ideologi sebagai praktik. 

Implikasi substantif  lainnya dari teori kritis terhadap AWK terlihat dari beberapa pendekatan yang digunakan dalam menganalisis wacana:
1. Analisis Bahasa Kritis (Critical Linguitics)
Critical Linguistics atau Analisi Bahasa Kritis yang banyak dipengaruhi oleh teori Systemic Functional Grammar dari Halliday melihat bagaimana gramatika bahasa membawa posisi dan makna ideologi tertentu. Artinya ideologi dikaji melalui pilihan kata dan struktur tata bahasa yang digunakan. Ideologi dalam tataran umum menunjukkan bagaimana satu kelompok berusaha memenangkan dukungan politik dan memarjinalkan kelompok lain melalui pemakaian bahasa dan struktur tata bahasa tertentu. 
2. Analisi Wacana Prancis (French Discourse Analysis)
Pendekatan Analisi Wacana Prancis didasari oleh pemikiran Pecheux yang banyak dipengaruhi oleh ideologi Althusser. Menurut pandangannya bahasa dan ideologi bertemu pada pemakaian bahasa, sehingga bahasa menjadi medan pertarungan yang dengannya berbagai kelompok dan kelas sosial menanamkan keyakinan dan pemahaman. Pecheux memusatkan perhatian pada efek ideologi dari formasi diskursif yang memposisikan seseorang sebagai subjek dalam situasi sosial tertentu.
3. Socio-Cognitive Approach
Pendekatan kognisi sosial dikembangkan oleh Teun A. Van Dijk yang memusatkan perhatian pada isu-isu seperti etnis, rasisme, dan pengungsi. Ia menganggap bahwa faktor kognisi sebagai unsur penting dalam proses produksi wacana, sehingga wacana dilihat bukan hanya dari strukturnya saja tetapi juga menyertakan bagaimana wacana diproduksi. Proses produksinya itulah yang disebut dengan kognisi sosial. Oleh karena itu, melalui pendekatan ini dapat dikaji wacana-wacana yang memiliki kecenderungan memarjinalkan kelompok-kelompok tertentu dalam pembicaraan publik. 
4. Sociocultural Change Approach 
Pendekatan perubahan sosiokultural dikemukakan oleh Fairclough yang banyak dipengaruhi oleh pemikiran Foucault, Julia Kristeva, dan Bakhtin. Wacana di sini dipandang sebagai praktik sosial yang memiliki hubungan dialektis antara praktik diskursif dengan identitas dan relasi sosial. Dengan pendekatan ini, dapat dijelaskan bagaimana wacana dapat memproduksi, mereproduksi status quo, dan mentransformasikannya. 
5. Discourse Historical Approach 
Pendekatan wacana sejarah diperkenalkan oleh Wodak dan koleganya yang dipengaruhi oleh pemikiran Habermas dari Mahzab Frankfurt. Pendekatannya ditujukan untuk membongkar bagaiman wacana rasisme, antisemit, dan rasialisme ditunjukkan dalam media dan fenomena masyarakat kontemporer. Pendekatannya disebut wacana sejarah karena menyertakan konteks sejarah bagaimana wacana tentang suatu komunitas digambarkan.